Categories Blog

Campuran Bekatul untuk Pakan Ternak yang Tepat

Campuran bekatul untuk pakan ternak perlu disusun dengan memperhatikan jenis ternak, kebutuhan nutrisi, dan bahan lain yang tersedia. Bekatul dapat menjadi salah satu bahan dalam ransum karena mengandung energi, protein, lemak, dan serat. Namun, peternak tidak sebaiknya menjadikan bekatul sebagai satu-satunya bahan. Ransum perlu memadukan beberapa bahan agar kebutuhan nutrisi ternak tetap seimbang. Buku ajar formulasi pakan juga menjelaskan bahwa ransum merupakan campuran berbagai bahan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan hidup dan produksi ternak.

1. Campurkan Bekatul dengan Sumber Energi

Jagung giling dapat menjadi salah satu pasangan bekatul dalam ransum. Keduanya dapat menyumbang energi, tetapi kandungan nutrisi setiap bahan berbeda. Karena itu, peternak perlu menyesuaikan jumlah masing-masing bahan dengan kebutuhan ternak.

Selain jagung, peternak dapat menggunakan bahan sumber energi lain yang tersedia di sekitar usaha. Pilihan tersebut membuat penyusunan ransum lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan kondisi bahan pakan. Peternak tetap perlu menghitung kontribusi nutrisi dari setiap bahan agar hasil akhirnya sesuai kebutuhan.

2. Tambahkan Bahan Sumber Protein

Bekatul tidak perlu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan protein. Peternak dapat menggabungkannya dengan bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, atau bahan protein lain yang sesuai.

Selanjutnya, periksa kandungan protein setiap bahan sebelum menentukan komposisi. Cara ini membantu peternak menyusun ransum berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan penggunaan bahan.

3. Sesuaikan dengan Jenis Ternak

Kebutuhan nutrisi sapi, kambing, ayam, dan ternak lain tidak sama. Karena itu, campuran bekatul harus mengikuti jenis ternak serta fase pemeliharaannya.

Ternak yang sedang tumbuh membutuhkan ransum yang mendukung pertambahan jaringan tubuh. Sementara itu, ternak produksi membutuhkan susunan pakan yang mengikuti tujuan pemeliharaan. Oleh sebab itu, jangan menggunakan satu komposisi untuk semua jenis ternak.

4. Perhatikan Jumlah Bekatul

Jumlah bekatul dalam ransum perlu mengikuti formulasi yang digunakan. Tidak ada satu persentase yang cocok untuk semua ternak dan semua kondisi bahan.

Sebagai contoh, penelitian pada ayam broiler periode finisher pernah menguji penambahan bekatul sebesar 5%, 10%, dan 15% dalam ransum. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa respons ternak dapat berbeda pada setiap tingkat penambahan. Karena itu, angka dari satu penelitian tidak otomatis menjadi aturan untuk semua ternak.

5. Tambahkan Mineral dan Bahan Pelengkap

Selain sumber energi dan protein, ransum dapat membutuhkan mineral serta bahan pelengkap lain. Peternak perlu melihat kebutuhan ternak dan komposisi bahan yang sudah digunakan.

Misalnya, formulasi tertentu dapat memerlukan sumber kalsium, fosfor, garam, vitamin, atau premiks. Dengan demikian, campuran bekatul tidak hanya berfokus pada jumlah bahan, tetapi juga pada keseimbangan nutrisi. Penambahan bahan pelengkap sebaiknya mengikuti formulasi yang sudah disusun.

6. Campurkan Bahan sampai Merata

Setelah menentukan bahan, timbang setiap komponen sesuai formulasi. Kemudian, campurkan bahan dalam beberapa tahap agar bekatul menyebar secara merata.

Mulailah dari bahan dengan jumlah lebih banyak, lalu masukkan bahan dalam jumlah lebih kecil secara bertahap. Aduk campuran sampai teksturnya terlihat seragam. Proses ini membantu mengurangi bagian ransum yang terlalu banyak mengandung satu bahan.

7. Periksa Kualitas Bekatul

Kualitas bekatul juga memengaruhi hasil campuran pakan. Bekatul yang tengik, berjamur, atau tercampur kotoran sebaiknya tidak digunakan.

Simpan bekatul pada tempat yang kering, bersih, dan terlindung dari kelembapan. Selain itu, gunakan persediaan secara teratur agar bahan tidak terlalu lama tersimpan.

Pembahasan mengenai cara memanfaatkan limbah sekam padi juga dapat menjadi referensi tambahan untuk memahami pemanfaatan hasil samping padi.

Kesimpulan

Campuran bekatul untuk pakan ternak sebaiknya menggabungkan bekatul dengan sumber energi, protein, mineral, dan bahan pelengkap sesuai kebutuhan. Peternak juga perlu menyesuaikan formulasi dengan jenis ternak, umur, fase produksi, serta kualitas bahan. Dengan perhitungan yang tepat dan pencampuran merata, bekatul dapat menjadi salah satu bagian dari ransum yang lebih seimbang.